July 23, 2019
Pendidikan

UNILA Sosialisasikan Mobile Klinik

UNILA Sosialisasikan Mobile Klinik

Sosialisasi Mobile Klinik di BPU Kacamatan Batanghari, Lampung Timur

LAMPUNG TIMUR (lampungadhigana.com) - Dengan tema “Desa Membangun”, Universitas Lampung bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Timur melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) menggelar Sosialisasi Program Mobile Klinik di Gedung Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur (30/10/2018).

Sosialisasi dilaksanakan dengan mengundang kepala desa, sekretaris desa, dan ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Se-Kecamatan Batanghari, Sekampung, dan Metro Kibang.

Dalam sosialisasi ini, Universitas Lampung diwakili oleh bapak Budiharjo, salah satu dosen di Unila yang konsen dalam kajian-kajian masyarakat dan pengabdian perguruan tinggi terhadap masyarakat.

Budiharjo mengawali sosialisasi dengan memaparkan perbedaan antara konsep “Desa Membangun” dan “Membangun Desa”.

“Saat ini, di era Undang-Undang  tentang Desa Tahun 2014, pembangunan harus sudah mempergunakan konsep desa membangun. Kalau dahulu konsepnya adalah membangun desa, yang menempatkan desa sebagai objek pembangunan. Dalam konsep desa membangun, desa ditempatkan sebagai subjek atau pelaku pembangunan,” jelas Budi.

Selanjutnya, Budiharjo juga memaparkan tentang banyaknya desa-desa yang tertinggal di Provinsi Lampung dan bagaimana program mobile klinik ini hadir untuk turut membantu desa dalam pembangunan.

“Status desa dibagi dalam lima kategori, yaitu desa sangat tertinggal, tertinggal, berkembang, maju dan mandiri. Saat ini hanya ada satu desa mandiri di Provinsi Lampung, yaitu Desa Hanura di Kabupaten Lampung Selatan. Selebihnya didominasi oleh desa tertinggal dan desa berkembang. Tujuan setiap desa haruslah menjadi desa mandiri. Memang tidak mudah dan harus melalui tahapan-tahapan. Mobile klinik bertujuan untuk bermitra dengan desa demi mewujudkan desa mandiri. Unila akan menyediakan layanan-layanan pendampingan yang bersifat mobile atau bergerak,” jelas Budi.

Budiharjo juga menjelaskan bahwa desa yang mandiri memiliki ciri-ciri, antara lain harus mencerminkan kemauan masyarakat desa yang kuat untuk maju, dihasilkannya produk/karya desa yang membanggakan, kemampuan desa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, desa bertumpu pada trisakti; karsa, karya, dan sembada.

Sementara menurut Gunaryo, Kepala Desa Adiwarno, Kecamatan Batanghari, yang juga menjadi peserta dalam sosialisasi ini menyatakan sangat mengapresiasi program mobile klinik ini.

“Selama program tersebut bertujuan untuk kemajuan desa kami selaku kepala desa akan menyambut dengan tangan terbuka. Program-program semacam ini kami harapkan bisa menjadi pencerahan bagi kami untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa membawa desa menjadi desa mandiri dengan cepat dan benar,” pungkas Gunaryo. (Aris)